Episode Surabaya

Surabaya.. impian yang terlupa

Selama perjalanan hidup kita, pastilah ada saat dimana kita bermimpi banyak hal. Begitu juga aku. Layaknya manusia normal yang lainnya, selagi kita masih bisa bermimpi, maka diriku yang dahulu kala, memimpikan berbagai macam hal yang mungkin terjadi dalam hidup ini.

Impian ini bermula ketika aku menjejakkan kakiku untuk melangkah di kelas 3smp. Saat itu mulai booming Mahadewi nya Padi. Dan yang mengenalkanku dengan lagu itu pertama kalinya adalah seseorang yang sangat aku sayangi saat itu. Klise memang, disatu sisi aku menjadi suka lagu itu karena orang yang aku sukai ternyata juga menyukai lagu itu. Sedangkan disisi lain Tuhan tidak (belum) pernah menjadikan jalan hidup kita bersinggungan lebih dari sekedar sahabat. Melalui perantaranya, saat itu aku mulai bermimpi untuk kemudian datang dan tinggal di surabaya. Tanpa bisa membayangkan lebih jauh bahwasanya Tuhan hanya menghubungkan kita selama 3tahun saja. Selebihnya Tuhan hanya membuat kita bertemu sesekali via teknologi terkini.

Kini setelah lama kuhilangkan, impian itu terwujudlah. Melalui caraNya. Dan yang pasti cara yang sangat indah. Yang tak pernah kuduga sebelumnya. Mimpi itu terwujudkan ketika aku merasa bahwa saat yang dijanjikannya hampir tiba. Namun aku salah, perjuanganku belum berakhir. Dia memberiku waktu untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.

Ini kali pertama aku pergi ke surabaya, hari kamis 10 Juli 2008. hari yang sangat melelahkan. Betapa tidak? Ketika pertama kali aku melangkahkan kakiku dengan penuh semangat ke rangkaian kereta api logawa jurusan purwokerto-jember, seketika itu pula aku dihadapkan pada selautan manusia yang berjubelan di rangkaian kereta tersebut. Syok aku melihat itu semua. Betapa semua impianku untuk menikmati perjalanan perdana ku ke tanah impian masa laluku. Ohhh betapa malangnya nasibku.

Dia menuntunku ke kereta itu

Dia memang hebat. Dia Maha Adil. Dia Maha Tau. Dia Maha Mengerti hambanya. Betapa tidak? Dia memilihkanku jalan-jalan yang indah. Jalan-jalan yang mungkin takkan pernah aku bayangkan sebelumnya. Pagi itu dengan semangat 45 aku langkahkan kakiku sekuat tenaga menuju stasiun lempuyangan. Hari itu masih cerah. Setelah sekian waktu mengantri tiket, akhirnya aku masuk kedalam stasiun lempuyangan dan segera menyerbu penjual koran untuk melariskan dagangan si abang dengan membeli kompas edisi hari itu. Entahlah aku gak ngerti kenapa aku harus membeli koran itu padahal aku sedang tidak berminat dengan isi berita didalamnya, yang nantinya aku akan mengerti betapa berartinya pengorbanan uang 3500 rupiah yang aku keluarkan tersebut.

Setelah tak lagi berminat akan koran yang aku beli, akupun duduk dilantai yang dekat pintu masuk stasiun tersebut. Sembari menunggu kereta datang, aku membayangkan banyak hal, melamunkan banyak hal, memohon banyak hal, meminta banyak hal dan menyesali banyak hal.

Waktu menunjukan pukul sepuluh kurang ketika aku akhirnya memutuskan untuk berjalan kearah barat stasiun untuk menuntaskan hasrat yang ada dalam diri (ciee.. bahasaku lho) padahal maksutnya aku tu mw ke toilet. Setelah keluar dari toilet, aku melihat ada bangku kosong di dekat toilet. Maka akupun menuju bangku tersebut. Untuk kemudian berbasa-basi dulu sama mba’2 yang ada disitu. Tak lama kemudian kereta logawa jurusan purwokerto-jember pun datang.aku segera bersiap untuk mencari tempat terbaik sehingga aku bisa menikmati pengalaman pertamaku menjemput impian. (”,).

Kaki ini membawaku menuju bagian akhir rangkaian gerbong kereta ini. Ketika kemudian kereta ini berhenti sepenuhnya, didepan mataku terdapat sebuah pintu, sehingga aku tak perlu lagi berlari kesana kemari dan berebutan masuk hanya untuk mencari tempat terbaik. Ketika kakiku melangkah ke dalam gerbong tersebut, aku tertegun, ternyata gerbong ini bukanlah gerbong biasanya. Ini adalah gerbong makan. Gerbong dimana sebenarnya penumpang tidak diperbolehkan untuk masuk. Sempat trefikir olehku untuk keluar lagi dan kemudian masuk dari pintu lainnya ke gerbong penumpang, namun aku mengurungkan niatku ketika aku melihat sekitarku. Disekitarku banyak orang yang duduk2 dilantai. Sehingga bisa kubayangkan bagaimana suasana gerbong penumpang yang lain. Maka kuputuskan untuk mundur sedikit dan mencari ruang kosong untukku menempatkan diri. Memikirkan bahwa perjalanan yang aku tempuh sangatlah jauh, maka tanpa berpikir lebih panjang lagi, kugelar koran yang aku beli tadi sebagai alas untuk duduk. Menyedihkan memang namun aku senang. Aku belajar banyak hal baru.

Perjalanan panjang?? Asyiknya rame2.. sendirian?? Cari temen dunkkkzzzz……. =D

Jogja – surabaya memang begitu jauh. Aku tak pernah bisa membayangkan sebelumnya, ketika aku harus menempuh perjalanan yang belum pernah sekalipun aku mengalaminya, sendirian.

Aku terdiam disudut sepi kereta ini. Disudut dimana aku tak mengenal sekitarku. Disudut dimana aku tak pernah tahu bagaimana ujung perjalananku itu. Semua terasa berbeda jika didekat kita ada paling tidak seorang yang juga mengiringi perjalanan kita. Namun tidak denganku. Aku hanya sendiri. Setiap orang yang kuajak bicara selalu menanyakan, ”sama siapa mba?”, ”sendirian aja mba?” atau kalimat-kalimat lain yang sejenis. Namun bukan ilmi namanya kalau tidak berhasil menemukan kegiatan untuk mengusir rasa sepi itu. Dari yang gak tau malu ngajak ngobrol orang yang gak dikenal, ngajak becanda anak2 kecil yang ada disitu sampe ngamatin orang2 jualan yang hilir mudik datang dan pergi yang mengganggu ketenangan lesehan ku. Hehehe.

Ternyata seorang ilmi juga bisa habis akal. Bingung mau ngapain lagi. Dan mulailah dia beraksi dengan mengganggu orang2 yang lagi pada kerja n sibuk dengan kegiatan masing2. sampe2 ngirim sms yang sudah tau bakalan sending failed. Yah. Gimana lagi lha udah kehabisan akal je. Lelah dengan duduk lesehan akupun berdiri untuk menikmati pemandangan. Pemandangan yang hanya berupa hamparan sawah yang luas dan sesekali terlihat rumah-rumah penduduk.

Ketika hati kecilku mulai diserang rasa khawatir akan sampai kapan aku harus terjebak dengan keadaan ini, saat itu aku mulai mengenal sekitarku. Betapa banyak hal yang bisa aku pelajari disini. Didalam batas kesederhanaan aku mengenal hal yang bernama persahabatan. Sebenarnya saat ini aku berada dalam kondisi dimana aku benar-benar berada dalam posisi terpuruk. Kalau kata lagu sih terpuruk ku disini, didalam perjalanan ini. Terjebak dalam kondisi dimana aku tak tau lagi harus bagaimana. Terjebak didalam kondisi dimana aku tak tau lagi harus ikut bahagia atau harus sedih dengan kenyataan yang setelah dilihat lagi ada perasaan tak adil bagi diri ini. Saat itu ada yang bilang padaku bahwa Dia Maha Adil. Dia tahu segalanya yang terbaik. Meski dalam hati kecilku berkata bahwa jika hal itu terjadi maka waktuku pun akan segera tiba. Ah sudahlah. Toh Dia juga telah memberiku kesempatan untuk memenuhi impian masa laluku yang sudah terlupa.

Dia memang hebat. Dia telah memilihkanku jalan meski jalan itu panjang (amat sangat panjang malah). Namun aku tahu ada banyak bagian yang memang benar-benar sangat memperhatikanku. Ada beberapa bagian potongan mozaik dalam hidup ini yang merangkaikan berbagai makna. Ketika aku harus merangkaikan potongan mozaik tersebut, aku menemukan betapa banyak kisah yang sudah kurangkaikan, betapa Dia telah mengatur semuanya untukku. Betapa banyak kisah yang begitu indah telah terjadi dalam hidupku.

Kembali lagi ke perjalanan ku kali ini. Aku bertemu dengan banyak orang dengan berbagai kisah mereka masing-masing. Aku belajar banyak hal yang kutahu pasti hal itu makin memperkaya hatiku.

 

 

Surabaya…. i’m coming..

Setelah menempuh perjalanan selama kurang lebih 7,5 jam. Aku pun tiba di tujuan. Dalam hatiku berkata, ”Surabaya, aku datang.” Hehe. Emangnya aku siapa ko’ sampe ngomong kya’ gitu?” tapi yang pasti dalam hatiku aku menikmati semua bagian dalam perjalanan kali ini. Termasuk ketika keesokan harinya tanggal 12 Juli 2008 aku menjejakkan kakiku di halaman Auditorium kampus UNAIR. Takjub aku memandang sekeliling. Pemandangan yang memang asing bagiku. Hati kecilku mulai beraksi untuk membandingkan pemandangan ini dengan kondisi almamaterku di kota pelajar nun jauh disana. Ya iya lah Jogja ma Surabaya dibandingin ya jelas beda donkz. Hanya orang yang kurang kerjaan aja yang meluangkan waktunya hanya untuk membandingkan dua objek yang berbeda situasi dan kondisi. He.

Tuhan tahu, tapi menunggu..

Setelah membaca sang pemimpi karya Andrea Hirata, ada satu hal yang aku pahami. Ketika kita tak punya sesuatu selain mimpi. Maka nikmatilah mimpi itu sepenuhnya. Ketika aku nyampe pada bab pembahasan Tuhan tahu tapi menunggu, aku tersadar pada satu hal. Betapa Dia menyayangiku. Percaya atau tidak, dengan kondisiku yang sekarang ini, Dia berikan ku satu petunjuk yang aku yakini memang bakal terjadi. Setelah satu tahun menunggu dan masih berujung ketidakpastian, namun aku tahu dengan pasti diujung perjalanan ini ada kepastian yang menungguku. Banyak hal yang terjadi setelah aku menyelesaikan akhir masa studi ku. Namun dari banyak hal tersebut aku pun belajar banyak hal. Belajar tentang arti kesabaran, ketabahan, ikhtiar, tawakkal dan pengorbanan. Aku belajar arti kehidupan yang sebenarnya. Belajar arti berbagi, belajar arti memberi dan belajar arti kebersamaan.

Waktu itu siang menjelang, ketika aku menunggu kereta yang akan membawaku kembali ke rengkuhan keluargaku tercinta, aku berkenalan dengan banyak hal. Menolong sesama meski hanya dengan beberapa rupiah, bercanda dengan adik kecil meski hanya dengan berbagi sedikit senyuman, berbagi dengan banyak anak – anak kecil meski hanya dengan sebungkus keripik singkong, serta mengenal orang yang lelah bepergian meski dengan menanyakan beberapa hal yang sepele. Aku belajar pada guru yang paling besar. Aku belajar pada tempat yang paling indah di dunia ini.

Aku tahu, Dia kan berikanku yang terbaik.

Iklan

9 thoughts on “Episode Surabaya

  1. Ping-balik: Berbicara tentang Mimpi « Jika dan Hanya Jika

  2. Ping-balik: Ada aja alasan untuk (gak) ngeblog!! « Jika dan Hanya Jika

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s