[F] Pertemuan

DSC02357
Hey, apa kabarmu? Semoga semuanya berjalan dengan lancar. Apa yang kau kerjakan sekarang? Apakah kau masih saja sibuk dengan pekerjaanmu? Ataukah masih sibuk memikirkanku? Ah aku bercanda. Pastinya opsi terakhir itu mustahil. Hahahah. Apakah kau bahagia? Setelah semua yang kau pilih sendiri, apakah kau bahagia?

Kalau aku? Sekarang? Yah. Aku bahagia sekarang. Bahagia yang aku definisikan sendiri. Apabila bisa makan dan minum dengan baik, tidur dengan nyenyak itu termasuk bahagia, maka ya, aku bahagia.

Apa? Kekasih? Maksudmu, apakah aku punya kekasih sekarang? Nah sungguh itu pertanyaan yang aku tak tahu jawabnya, jika kau bertanya, apakah aku sudah berusaha? Nah sungguh aku tak tahu lagi harus menjawab apa. Kemudian jika lagi-lagi kau bertanya, apakah aku kesepian? Tentu tidak, aku punya banyak teman disini, namun aku juga lebih suka sendiri. Mengapa begitu? Akupun tidak tahu. Aku hanya ingin sendiri. Yah seperti itu. Aku hanya ingin sendiri.

Tau kah kau? Disini banyak sekali yang suka menasehati, banyak sekali yang suka bicara, banyak sekali yang merasa lebih berpengalaman. Namun bagiku, mereka tidaklah terlalu banyak pengalaman. Hanya saja mereka terlalu banyak bicara. Ahhhh, hingga aku lelah untuk mendengarkan.

Dan pada awalnya, aku hanya ingin bercerita, aku ingin jadi cerewet, pun ingin didengar. Namun terlalu banyak yang ingin didengar disini, dan akhirnya akupun mengalah.

Baiklah mumpung kau di sini sekarang, bukankah lebih baik aku bercerita padamu saja? Kau masih mau mendengarkan aku kan? Mmm, mulai dari mana yah? Bagaimana kalau dari kerjaan saja? Duh, tapi gak asyik deh masak ngomongin kerjaan? Eh, atau lebih baik dimulai dari aku saja? Yah sepertinya begitu, lebih baik kita mulai dari diriku saja.

Kau tahu? Aku suka bersepeda sekarang. Kalau dulu aku suka sekali lari, kini aku memilih untuk bersepeda. Kenapa katamu? Tentu saja karena bersepeda itu jauh lebih menyenangkan, aku lelah berlari, apalagi berlari dari kenyataan, duh itu melelahkan sangat. Dengan bersepeda, itu membuatku menghemat waktu, dan tidak ada konotasi negative lagi kayak berlari tadi, masak mau bilang bersepeda dari kenyataan? Kan jadi lucu donk. Hahahah. Sudahlah jangan menertawakanku.

Lalu apalagi yaa. Oiya, sekarang aku tinggal di dekat pantai. Sepertinya memang aku tak bisa jauh-jauh dari pantai lho. Apa? Buktinya? Oke oke, pertama nih, pas jaman sekolah dulu, oke memang sih sekolahanku bukan di pinggir pantai, tapi tau gak, aku suka mainnya kemana? Iyak betul. Ke sungai. *eh. Xixixixi. Ah sudahlah tak usah diteruskan. Apa? Pantainya indah? Sama sekali enggak! Tapi walaupun nggak indah, aku tetap suka menunggu matahari terbit di pantai itu. Bagaimanapun juga, matahari terbit selalu memberiku kekuatan baru. Selalu memberiku semangat baru.

Ah iya, ngomong2 soal matahari terbit. Kenapa yah matahari terbit itu banyak sekali dinantikan orang? Banyak orang berburu matahari terbit hingga rela mendaki gunung setinggi mungkin, atau ada yang lebih suka menunggu matahari terbit di pinggir pantai. Seperti aku? Tidaaak, aku tak selalu menghabiskan waktu ku untuk menunggu matahari terbit di pinggir pantai. Sebenarnya aku lebih suka gunung. Tapi entah kenapa, justru aku lebih berjodoh dengan pantai daripada dengan gunung. Seperti aku yang lebih berjodoh jauh darimu daripada dekat denganmu. Ups.
Oke oke, kita gak bahas itu lagi kok.

Kamu tahu? Kemarin aku mendapatkan penghargaan loh? Hey, bukan penghargaan karena seringnya aku datang terlambat laah. Masak ada penghargaan seperti itu. Aku kan orangnya tepat waktu, emangnya kamu yang suka terlambat? Iya, kamu suka banget terlambat. Terlambat pergi dari hatiku. Hahahahah. Oke oke serius sekarang. Aku kemarin mendapatkan penghargaan pegawai teladan. Kamu tahu donk apa artinya itu? Pegawai teladan itu adalah pegawai nomor satu. Dan itu berarti keberadaanku diakui! Yuhuuu, betapa senangnya aku. Kau tahu? Tidak ada yang bisa meremehkan aku lagi. Liat saja banyak hasil kerjaku yang mereka pakai sekarang. Pada akhirnya siapa yang tertawa terakhir dialah yang menang bukan? Dan aku tertawa sekarang. Hahahaha.

Eh apa? Enggaklaaah, aku enggak sedang menyombongkan diriku sendiri kog sekarang, maksutnya sombongnya gak banyak tapi dikiiit. Xixixixi. Kau tahu sendiri kaan, bagaimana aku berusaha selama ini. Dari seorang yang gak pernah dianggap kemudian jadi seperti ini. Bukankah itu prestasi yang luar biasa? Sudahlah, akui saja kalau aku ini hebat. Sekali-kali boleh loh kamu memuji aku.

Oh, kau mau bertanya sesuatu? Apa itu? Teman dekat? Ada sih beberapa yang aku suka. Ada emmmm dua. Tapi keduanya sama-sama acuhnya. Yang satunya sudah punya kekasih sih, tapi kan kekasihnya itu beda agama. Boleh donk aku ngarep dia kembali ke jalan yang benar. Tapi sepertinya sulit. Entahlah. Sepertinya dia tak tertarik padaku.

Apa aku tidak semenarik itu? Ayo katakan, kenapa kau dulu bisa tertarik padaku? Karena apa? Apa karena tak ada lagi pilihan lain? Ayo bilang padaku. Hmmm, yasudah kalau kau tak mau bilang. Tak apa kog. Yang satunya gimana? Sama saja. Kayaknya sih belum punya kekasih kog, tapi gak tau juga, anaknya suka aneh. Sepertinya masih suka main2. Yasudah, sepertinya aku lebih baik mundur saja.

Kalau yang suka aku? Mmmm, mungkin ada, tapi mungkin juga tidak. Ah, aku gak tau. Aku gak pernah merhatiin itu sih. Kan kamu tau sendiri, aku itu orangnya suka gak ngeh. Yang baik sama aku? Yang perhatian sama aku? Yang suka merhatiin aku? Lah, mana ku tahu. Aku gak sempet merhatiin hal-hal kayak gitu. Lagian kantor ini luas sayang. Kantor ini yah ada 19 lantai, dan aku di lantai 5, manalah sempet aku merhatiin orang satu-satu. Eh, emangnya kamu dulu kayak gitu yah ama aku? Kog aku gak ngerasa yah? Hahahaha. Kan udah kubilang tadi, aku itu suka gak ngeh dengan kata lain aku itu gak peka kalo soal gituan.

Eh tapi kenapa bisa gitu yah? Padahal gosip2 kantor sini tuh aku bisa apdet banget loh. Dari yang gosipnya big big boss yang kemarin habis vacation sama sekretaris barunya sampek ke gosipnya si office boy lantai 10 yang ke gep punya affair sama karyawan gedung sebelah. Tuuuh kan, aku bisa apdet banget. Tapi kalo hubungannya sama aku, kenapa analisa ku jadi enggak tajam sama sekali yah? Pisau kali tajam. Hehehe.

Dan kalo aku pikir-pikir juga, kadang perasaanku sendiri pengennya gimana aku enggak tau loh. Yap. Termasuk pas sama kamu. Makanya itu, aku sekarang sepertinya lebih milih sama orang yang aku sukai aja deh, dari pada sama orang yang suka aku. Kenapa katamu? Nih kasih kaca dulu deh. Dulu kamu tuh sukanyaaa kayak apa coba sama aku, tapi begitu kamu enggak suka, duh segitu enggak sukanya kamu sama aku. Inget gak? Bahkan melirik aja enggak loh kamu dulu. Ish, gimana gak trauma coba kalo kayak gitu. Padahal yah, aku tuh orangnya susaaah banget suka ama orang. Bahkan sama kamu aja sebenernya pertamanya biasa aja, justru malah pas terakhir-terakhir kamu mulai enggak suka sama aku, eh aku nya yang gak bisa lepas dari kamu. Sampai sekarang? Enggaaaak lah. Sekarang lho udah 5 tahun sejak peristiwa itu. Aku udah gak apa-apa kog sekarang. See. Kamu lihat sendiri kan. Aku udah bisa makan enak, tidur nyenyak, traveling keliling Indonesia, ke korea ketemu idola, bahkan karirku lagi cemerlang-cemerlangnya.

Duh, kenapa kamu enggak percaya sih. Buktinya aku bisa ketemu kamu kayak gini terus cerita panjang lebar kayak gini. Yasudah, kamu mau aku ceritain apa lagi? Rencanaku selanjutnya? Entahlah. Mungkin menikah dan kemudian punya anak. Mungkin juga lanjut sekolah terus ntar jadi dosen. Atau resign aja dari kantor terus jadi relawan. Entahlah. Masih belum tahu.

Iya aku tahu, aku sudah harus merencanakan. Tapi bagaimanapun kita berencana, Tuhan lah nanti yang akan memutuskan. Menjadikan atau tidak.

Hey, aku bukannya pesimis yah. Tapi aku realistis. Ah sudahlah, gak bakal ada selesainya kalau ngomongin soal ini.

Kalau kamu? Aku dengar istri mu baru saja melahirkan anak kedua kemarin? Wah, jadi bapak dua anak donk kamu? Bla bla bla..

Dan senja pun turun perlahan. Membawa mentari ke pangkuan. Berganti bulan yang mengambang.

Aku melangkah gontai, meninggalkan sesosok yang pernah mengisi hari hari ku dulu di belakang. Oh Tuhan, seandainya aku bisa meminta, jangan pertemukan aku lagi dengannya. Cukup sudah sekali ini saja, aku bercerita panjang lebar memasang topeng di muka ku. Aku lelah. Berharap esok jadi lebih baik.

Iklan

One thought on “[F] Pertemuan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s