Tentang Takdir

Pagi ini ngecek email dan ada perbincangan tentang takdir di salah satu mailing list yang aku ikutin. Langsung buka n nemu balesan beserta link ini yang berisi tentang kultwit takdir dari Ustadz Anis Matta. Klo di milist sih udah di copas kan, tapi gak afdol rasanya kalo belum meluncur ke lokasi sumber langsungnya. Walopun yang di copas ama sumber langsungnya itu gak ada bedanya sama sekali sih. Hehe.

Awal pertanyaannya sih gampang2 aja yah. Diantara kita pernah gak tiba2 kepikiran tentang suatu hal, eh ternyata tiba2 kejadian itu bener2 kejadian di kehidupan nyata kita. Pernah gak sih kita mengalami kejadian kya gitu? Kalo aku pribadi sih ya, akhir2 ini sering ngalamin apa yang biasa dinamakan dejavu. Entah itu tempat entah itu kejadian. Etapi klo dejavu itu sering2nya kan kya kita pernah ngalamin sesuatu sebelumnya kan yah. Hehe.

Soal takdir, diambil dari sumber yang ada diatas tadi,

Takdir adalah ide tentang bagaimana kita menafsir kekuatan dan kelemahan kita sebagai manusia. Juga ide tentang skenario kehidupan, dimana Allah adalah pusatnya.

Lihatlah perjalanan hidup kita. Bagaimana ia sangat dipengaruhi banyak faktor. Tapi semuanya tidak dalam kendali kita. Orang tua, suku, waktu dan tempat kelahiran, orang-orang yang sezaman dengan kita, orang-orang yang kita temui dalam perjalanan hidup, semua tidak kita tentukan. Pengaruhnya? Adalah semata karena rahmatNya ketika Ia memberi kita kesempatan untuk memilih beriman atau tidak beriman. Tapi akibat pilihan kita adalah takdirNya.

Nah kaan, brarti tidak ada yang namanya kebetulan kan dalam hidup kita, ibarat soal ya, takdir kita itu kya pilihan ganda mungkin ya, jadi dalam satu soal atau permasalahan ada banyak sekali option pilihan alternative jalan yang mungkin kita pilih, dan di setiap opsi itu, ada beberapa opsi lainnya yang kemungkinan terjadi. Jadi klo dalam ilmu statistika itu dinamakan probabilitas gitu yah? Nah kaan *lagi. Bener kaan gak ada yang namanya kebetulan. Semua sudah diatur, jadi yang namanya kebetulan itu ya sebenernya kita sendiri yang menentukan. Ibarat masuk labirin terus ketemu persimpangan (sebut saja persimpangan1) kita suruh pilih tuh, kanan apa kiri, nah udah ditentuin tuh ya ketika kita pilih yang kiri nanti bakalan ketemu apa, begitu juga klo kita pilih yang kanan bakalan ketemu ama apa. Klo kita jalan lagi, eh ternyata nemu persimpangan lagi (persimpangan2), mau pilih yang mana? Dan gituu seterusnya sampe kemudian ternyata di jalan berikutnya nemu persimpangan lagi (persimpangan ke-n) dan setelah kita milih, eh ketemu lagi sama salah satu actor di peristiwa persimpangan1? Brarti itu emang sudah diskenarioNya. Nah brarti kebetulan itu kan kita sendiri yang menentukan.

Soal ini berarti kan pinter2nya kita ngebaca takdir Nya kan yah? Klo kata Pak Anis Matta itu kya gini nih,

Membaca takdir Allah adalah upaya yang tak boleh berhenti untuk memahami kehendakNya. Belajarlah menitipkan kehendak kita dalam kehendakNya. Mempertemukan kehendak kita dengan kehendakNya itulah yang disebut tawfiq. Pertemuan yg menciptakan harmoni kehidupan. Damai dan tenang tiada henti.

Sebab jika Allah hendak menciptakan peristiwa dan memberlakukan kehendakNya, Ia menyiapkan semua sebab2nya dan terjadilah semua takdirNya. Berhasil membaca kehendakNya dalam hidup kita akan memberi kita ketenangan jiwa yang tak kan tergoyahkan oleh goncangan hidup apapun. Kita merasa lebih pasti.

Intinya sih mungkin lebih ke ke-optimis-an kita dalam menyikapi segala macam sesuatu yang terjadi dalam hidup kita. Dan ujung2nya lebih berkaitan ama tingkat keimanan kita. Jadi segala sesuatu apapun itu pasti ada hikmahnya dalam hidup kita. Meskipun itu cobaan yang menurut kita berat dan bahkan memalukan sekalipun. Masih mending kan yang dikasih cobaan, tandanya Allah itu sayang sama kita, Allah itu peduli sama kita. Tapi jangan juga kita salah mengartikan, misal nih ya, kita korupsi trus ditangkap kpk, eh trus gitu kita ngomongnya itu cobaan dari Allah, itu karena Allah sayang sama kita. *eh.gak make sense banget kan yah jadinya?* Klo misal sesuatu hal itu terjadi karena kita memang salah, aku sih lebih menganggap itu peringatan dan azab Allah. Walopun masih tergolong azab kecil yah.

Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Maha Mampu bertindak dan melakukan apa saja yang Ia kehendaki. Tapi juga Maha Penyayang dan Maha Adil. Jadi walaupun Allah Maha Mengetahui dan Maha Mampu melakukan apa saja, tetap saja kasih sayang dan keadilanNya mengalahkan angkara murkaNya. Itu sebabnya Allah tdk akan pernah menzalimi hambaNya. Walaupun Ia bisa kalau Ia mau. karena Ia terlalu Pengasih dan terlalu Adil.

Itu yg menjelaskan mengapa seluruh takdirNya adalah kebaikan semata. Termasuk semua musibah yg menimpa hambaNya, itu pertanda cinta. Memadukan keperkasaan dan kasih sayang. Kekuatan dan keadilan. Adalah sifat Allah yang menciptakan harmoni dan keseimbangan dalam takdirNya.

Semua ketetapan Allah yang didasarkan pada ilmu dan kemampuan, kasih sayang dan keadilan diturunkan sebagai takdir melalui pengaturan (tadbir). Makanya Allah disebut sebagai Al Mudabbir atau yang mengatur dan merencanakan detil2 kehidupan manusia. Hidup kita berjalan dlm skenarioNya.

Yang harus kita jaga agar takdir baik berpihak pada kita adalah konsistensi pada kebenaran. Walaupun kita akan tampak lugu dan naif. Ini permainannya! Allah yang mengontrol saluruh permainan ini karena Dia sendiri yang mengendalikan alam raya ini,termasuk ilmu ttg masa depan. Jadi jangan terlalu khawatir!

Dan intinya adalah, β€œGusti Allah mboten sare.” Begitulah yang sering dinasehatkan teman2ku akhir2 ini. Terimakasih atas dukungannya temans.. Suatu saat nanti, aku percaya kita pasti akan bertemu lagi di waktu, kesempatan, saat dan kondisi yang jauh lebih baik dari sekarang.

Have a nice busy day all.. πŸ™‚

Iklan

4 thoughts on “Tentang Takdir

  1. Belajarlah menitipkan kehendak kita dalam kehendak-Nya…
    Saya suka sekali dengan kalimat ini, Ilmiy.
    Takdir buat saya adalah hasil dari apa yang sudah kita tanam. Takdir buruk karena kelalaian yang telah kita lakukan. Takdir baik karena banyak hal positif yang sudah kita tanamkan pada banyak orang.
    Jadi semua kembali pada pilihan kita, kita ingin memiliki takdir baik atau justru sebaliknya.
    Gimana?
    Setuja kan?
    πŸ˜‰

    • Setuju mbak.. Pas nulis ini aku juga sambil mikir. Apa yang terjadi sekarang ini mesti akibat dari apa yang mungkin telah aku lakukan dimasa lalu.
      Dan emang sebagian besar setelah aku pikir2 lagi ya emang bener kya gitu.
      Kalo ternyata ada orang yang menyakiti kita, ya gak usah dibawa dendam, lebih ke introspeksi diri lebih lanjut. Dan its work kog. Pada akhirnya ya tetep selalu berusaha menjadikan diri selalu lebih dan lebih baik lagi setiap waktu. πŸ˜€

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s