fiksi lagiii…… Untitled

Haruskah aku berkata selamat atas kelahiran putra pertama kepada suamiku sendiri? Haruskah aku memberikan ucapan selamat padahal anak itu tidak lahir dari rahimku sendiri. Padahal aku pun tak tahu pastinya apa yang sebenarnya terjadi.
Saat ini, api amarah yang ada dalam hatiku sudah paham. Ketika aku mendengar kabar itu, yang ada hanyalah diam. Dan tak satupun kata mampu keluar dari mulutku. Tak ada lagi derai tangis berkepanjangan. Yang ada hanyalah diam. Bukan karena tak ada yang dipertanyakan. Namun karena terlalu banyak pertanyaan yang ada di kepala. Bukan karena aku marah dan emosi. Namun karena sudah tak ada lagi amarah yang tersisa. Percuma. Begitu pikirku.

Ingatanku melayang kepada peristiwa lima tahun silam. Saat kita pertama kali berjumpa. Dia sosok yang tidak terlalu menonjol, cenderung biasa menurutku. Saat itupun tak ada terfikir dalam benakku sekalipun bahwa aku akan jatuh cinta kepadanya. Dengan semua kecenderunganku saat itu, tak pernah terbersit pula dalam benakku untuk ‘kejar setoran’ dalam hal cinta-cintaan.

Semua berjalan dengan sendirinya. Tiba-tiba saja dia datang, dan tiba-tiba saja akupun patah hati akan hal yang lain. Satu saat aku bahagia dengan yang lain, namun di saat yang lain aku mematahkan semangat orang lain. Dan dari banyak peristiwa yang ada, kadang tak satupun jalan kita bersinggungan. Mungkin pernah sejajar, namun jarang sekali bertemu di satu titik yang sama. Entah mengapa dia tiba-tiba saja datang menghampiriku. Membawa sekeranjang harapan dan impian. Dan aku yang terbawa perasaan memilih untuk tidak menyakiti. Dengan lapang dada menerima semua dan berusaha menjalani semua.

Pada awalnya, aku tak merasakan segala getar2 itu. Aku belajar menerima. Aku belajar untuk memberi tanpa sekalipun aku menyangka akan belajar banyak hal dari dia. Dia yang kukenal, ceria, penuh tawa, sekali lihat pun semua orang akan tahu, dunia terpusat padanya.

Aku kembali termenung, melihat kembali dua tahun terakhir, ketika semua mulai berubah. Aku merasakannya, namun aku tak ingin mempermasalahkannya. Sudah cukup dengan semua permasalahan kantor yang membuatku pusing. Belum lagi mengenai hal-hal kecil dalam hubungan ma temen2. Rasanya percuma saja menambah masalah dengan hal2 yang kya gitu.
Namun ternyata hal sepele tersebut lah yang telah merusak semuanya. Ketika sebuah kepercayaan disalahgunakan. Dan akhirnya bagai api dalam sekam. Saat kesempatan kedua datang pun menjadi percuma. Tidak ada yang bisa diperbaiki. Semua sudah terlambat.

Saat semua sudah terlambat, aku berjuang sendirian, aku merelakan dan melepaskan semua yang kupunya saat itu. Berbekal kepercayaan akan bumi Allah yang luas, aku melangkah. Mencoba memperbaiki semuanya. Sendirian. Namun usahaku tak berbuah hasil apapun. Semuanya mengering dan mengeras. Sekeras batu karang yang mencengkram bumi. Aku kalah.

Lalu aku punguti puing2 kekalahanku. Berjalan maju untuk terus berlari. Biarlah aku berlari untuk mengejar sesuatu hal yang pasti. Yang pastinya lebih indah.

Sekali lagi, melalui ini, aku ucapkan selamat, untuk anggota baru yang hadir di keluarga suamiku.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s