just another fiction

Dia terdiam di dalam sujud panjangnya. Pagi itu dia terbangun dengan peluh bercucuran. Entah apa mimpi yg dialaminya malam itu. Namun pagi itu, dia tersadar satu hal. Dia salah! Yah! Ingin rasanya dia mengutuk, menyumpah dan membodohkan dirinya sendiri. ‘Percuma saja jilbab ini ada, percuma saja berpendidikan tinggi! Tapi masih melakukan apa yang sudah jelas2 salah dan tidak boleh! Lalu apa artinya jilbab? Apa artinya titel M.M! Kalo masih bodoh! Dasar bodoh! Bodoh! Goblok! Tolol!’ Demikian rutuk perempuan muda itu.

Umurnya baru 28, belum terlalu tua bukan? Tapi mengapa sepertinya ada penyesalan besar yang dia alami? Akupun bertanya2 sendiri dalam hati.
Perempuan itu pun kembali termenung. Menangis dalam hati sejadi2nya. Membenamkan diri dalam duka yang terdalam. Penyesalan yang tiada habisnya. ‘Kini aku harus memutuskan! Aku sudah sadar klo ak salah, aku mau bertobat, aku ingin menjadi lebih baik’ gumamnya.

Jauh dalam hatinya yang terdalam, dia memantapkan hatinya. Memantapkan hati untuk melepaskan. Melepaskan seseorang yang dahulu mengisi hari2nya. Yang menemaninya berbuat satu kesalahan disusul kesalahan lain. Yang bersamanya, dia merasa tenang. Dimana dia mengukir impian terindah, bercita2 banyak hal yang membahagiakan.
Dia memutuskan untuk berpisah dengan kekasih hatinya.

Jika kamu pikir apa susahnya? Tinggal putus aj! Gitu aja kog repot? Tidak semudah itu kawan! Hubungan mereka telah mendapat restu orangtua, restu Tuhannya dan restu negara! Tidak semudah itu memutus apa yang telah disatukanNya.
Tapi menurut seorang bodoh yang berjeniskelamin lelaki itu mudah saja! Dia tinggal tidak menjalankan apa yang tertulis di buku kecil sampul hijau dan merah! Iya. Dia benar2 melakukan apa yang tidak seharusnya dilakukannya.
Betapa bodoh seorang laki2 yang dengan mudah berpikiran hal picik seperti itu! Dia pikir jika sudah 3bulan lebih tak diberinya hak seorang istri. Maka dia sudah terbebas dari istri itu selamanya.
Dan taukah kau teman? Sang istri itu begitu sabar menunggu kabar dari suaminya yang berbulan2 tak bisa lagi dihubungi. Coba kalian pikir. Betapa lelaki kadang terlalu egois dan perempuan adalah makhluk indah yang menerima.

Namun dibalik itu semua, perempuan muda itu sudah memutuskan nasibnya sendiri. Tak lagi dia berlarut2 dalam kesedihannya. Tak mau dia tenggelam dalam ketiadaannya. Dan dia membuat dirinya ada. Tak peduli apa yang diperbuat suaminya. Menutup telinga dari semua kabar miring ttg suaminya. Dia melangkah! Bahkan berlari. Tak apalah org tau dia bersuami. Dan bilalah ditanya dimana si suami? Dijawablah dengan senyuman dan malu2 bekerja di negri orang. Selesailah semua. Pertanyaan selanjutnya cukup jawab dengan senyuman.

‘Biarlah saja jika dia berniat baik, maka dia akan segera menyelesaikan semuanya’ demikian pikir si perempuan muda itu. Berbekal semua tekad itu pula, ketika waktunya tiba datanglah semua tuduhan dan tuntutan itu. Memang dia bertekad menyelesaikan semua, tetapi tidak semudah itu! Tidak akan! Batinnya.

Dengan segenap sisa2 daya upaya yang dia miliki, demikianlah dia katakan perang!

Ditengah2 dia tersadar akan apa yang dilakukannya dimasa lalu. Semua kesalahan itu. Dia serahkan semua kepada yang memberi masalah. Berharap kisah lain yang lebih indah akan terjadi dalam hidupnya.

Dan kini, dia ada dalam sebuah kereta besi yang dengan kemampuannya mampu melintasi langit membawanya menuju belahan dunia bagian manapun, dengan kacamata hitam model masa kini bertengger manis di hidungnya, menikmati penerbangan kelas eksekutif, hasil jerih payahnya 4tahun belakangan ini.

Dan di tempat, waktu yang sama, sebuah keluarga kecil, ayah ibu dan seorang anak perempuan umur 4.5tahun, berada di bagian kelas ekonomi penerbangan itu. Sang ayah dengan jam tangan yang tak pernah lepas dia pakai selama 7tahun terakhir. Berpenampilan asal2an yang menandakan kerasnya hidup selama 4tahun terakhirnya. Berpindah2 pekerjaan dan menata hidupnya sembari menafkahi istri dan anaknya.

Di bandara internasional itu, untuk pertama kalinya setelah 4tahun berlalu, lelaki itu melihatnya. Anggun, Indah, Kuat, dan Hebat. Menetes airmata haru penuh penyesalan. Ingin rasanya dia berlari menyongsongnya. Sebuah kebahagiaan yang dia singkirkan dengan tangannya sendiri. Sebuah bunga yang telah dihancurkannya 4tahun silam. Namun langkahnya tertahan dengan sentuhan tangan kecil yang berkata, ‘ayah.. Nana capek.’

-the end-

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s