daun yang jatuh tak pernah membenci angin

hehe.. judulnya amat sangat tidak kreatip sekali yaah..

kalo yang penggemar novel pastinya uda tau deh tuh judul novel. yup.. itu judul novel nya tereliye.

gambar diambil dari sini

sbenere sih aku belum pernah baca novel itu.. n postingan kali ini juga bukan untuk membahas novel ituu.. cumaaa.. sebenernya dikarenakan aku mupeng banget baca novel itu jadilah judulnya dijadikan judul disini dikarenakan aku seneng banget ma istilah itu.. hehehe.. filosofis banget gituu loh.. *hehe.. ngomongin apa sih ini?? kog jadi aneh gini… 🙂

yup.. terpana sama judul itu.. disini aku ingin membahas filosofis menurutku apa makna dibalik judul itu..

gambar diambil dari sini

daun yang jatuh tak pernah membenci angin.

kenapa tak pernah nya aku bold?? karena kata itu sungguh berarti menidakkan yang benar2 meniadakan.. hahah.. apaan sih?? secara naluriah yah.. kita sebagai manusia pastinya adalah kesel ato sebel ato apapun lah istilahnya jika zona nyaman kita tersenggol orang yang tidak dikenal n tidak bertanggungjawab. yakaan yakaann..

tapi liat deh.. daun tumbuh dari batang ato ranting.. dari tiada menjadi daun muda.. menjadi daun tua.. menjadi daun yang menguning.. dan kemudian akhirnya jatuh tertiup angin.. sama seperti manusia.. lahir dari rahim sang ibu dengan kerjasama dengan sang ayah pastinya kemudian menjadi bayi kecil mungil tak berdaya. menangis silau melihat kilau dunia. dari kecil menjadi besar menjadi dewasa kemudian berkeluarga mempunyai anak cucu bahagia sampai ajal menjemput.. amiiinnn 🙂

gambar diambil dari sini

secara sekilas kedua kejadian daun dan manusia adalah sama. namun mengapa sang daun tak pernah membenci angin yang yang membuatnya terlepas dari rantingnya bahkan mungkin sebelum mereka menguning??

mungkin karena mereka tak bisa bicara?? hmm.. atau mereka tak sempat untuk memprotes?? atau bahkan karena mereka tak ingin??

entahlah.. mereka pastinya ikhlas. karena ketika mereka jatuh tertiup angin.. mereka bisa menjadi pupuk kompos yang menyuburkan sang tanah tempat sang akar tanaman tadi mencari makan yang pada akhirnya memberi kehidupan ke daun-daun yang masih tersisa.. subhanalloh 🙂

maka dapatkah kita seperti daun tersebut.. memberi tanpa pernah meminta. can we?? dengan penuh cinta kasih pastinya.. 😀

gambar diambil dari sini

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s