Just 4 my friend – perjalanan ke solo

Aku berjalan.. aku melihat.. aku mendengar.. aku merasakan.. aku menilai.. aku memutuskan.

Aku mencoba melakukan semua hal yang berkaitan dengan hidupku sendiri. Aku melihat banyak hal dan aku pun menilai banyak hal. Meski terkadang penilaian itu hanya bersifat sesaat semata. Aku berdiri pada satu tumpuan kaki. Belajar menyeimbangkan antara akal fikiran dan perbuatan. Serta mencoba menilai segala sesuatu bukan hanya dari bungkus yang terlihat. Aku mencoba untuk adil pada segalanya. Namun ternyata. Tak selamanya keadilan yang kubuat telah berlaku adil terhadap apa yang ada disekelilingku.

Mungkin aku belum pernah merasa begitu kehilangan akan sesuatu. Akan tetapi ada hal yang membuatku kembali berfikir kebelakang. Bahwasanya apa yang kita lihat dan rasakan saat ini mungkin saja tak akan berulang lagi dimasa yang akan datang. Dan saat-saat indah yang terlewatkan begitu saja tak terasa telah meninggalkan seberkas kenangan yang tak pernah terlupa.

Tak terasa kurang lebih lima tahun berlalu semenjak perkenalan yang tak terduga itu. Tak terasa bahwa kebersamaan yang kita lalui adalah kebersamaan yang singkat. Kebersamaan yang dahulu sempat terlupa sebab garis takdir tak lagi mempertemukan kita dalam beberapa kisah indah. Namun dibalik itu semua ada suatu kesempatan dimana kelima cewek yang dipertemukan oleh tempat dan kondisi itu berpetualang bersama menembus bilangan solo dan sekitarnya. Meski hanya singkat saja namun hal itu cukup memberikan kenangan yang mengendap dihati masing-masing nya.

Sore itu mendung menggelayuti kota Jogja. Tepatnya daerah Pogung Kidul. Ketika kelima cewek itu bersiap untuk melakukan suatu perjalanan, tak disangka hujan turun dengan derasnya. Bermodalkan nekad dan tekad yang keras dari kelimanya, maka tanpa pikir panjang lagi mereka bergegas berangkat menembus guyuran hujan bersenjatakan payung 3 buah yang memayungi kelima anak manusia itu. Perjalanan yang sebenarnya singkat terseut menjadi sangat panjang dikarenakan hujan yang menemani perjalanan mereka. Ditambah nunggu bis kota yang lama menyebabkan mereka berlima basah kuyup tak menentu. Seiring ketika akhirnya beberapa menit kemudian mereka sampai di stasiun lempuyangan dengan susah payah, kereta prambanan ekspres pun melaju dengan anggunnya menuju stasiun tersebut. Maka mau tidak mau mereka berlari tergopoh gopoh menyongsong mbak2 penjual tiket dengan segera membeli tiketnya dan tanpa membuang waktu segera berlari menyongsong kereta tersebut. ”Pfiuh… akhirnya sampai juga. Pas banget yah..” seru salah satu dari mereka. Dan merekapun bergegas untuk ikut berebutan masuk ke rangkaian kereta tersebut saat kereta tersebut berhenti tepat dihadapan mereka. ”Yah.. gak dapet tempat duduk nih..” salah satu dari mereka berkata. Dan yang lain pun menyahut ”Gpp, nyante ajah.. kan kita uda sedia koran bekas. Kita lesehan aja. OK?” sembari menggelar bekal koran bekas yang mereka bawa dan dengan segera berebut mendudukinya. Dan perjalanan ke Solo sore itu pun dimulai dengan bercerita, ngemil, ketawa2 sampai akhirnya tertidur dengan posisi duduk berpunggung2an.

Ketika akhirnya rangkaian kereta mulai kosong karena udah banyak penumpang yang pada turun, mereka bersiap-siap berdiri, sembari searching tempat duduk yang sudah tak berpenghuni lagi. Sementara itu disudut bagian lain ada seseorang yang menunggu dengan sabar, menunggu sang putri tercinta yang akan datang dengan beberapa temannya yang akan segera meramaikan kediamannya.

Makan malam kali itu terasa berbeda. Apalagi bagi anak kos macam mereka. Makan gratis dan enak adalah hal yang paling dicari, sampe2 kalo bulan puasa dibela2in dah tuh cari tajilan di masjid2 besar sekalian cari makanan buka gratisan. Hehehe. Back to the dinner. Setelah selesai makan malam dan mebereskan segala hal yang berkaitan dengan cuci-mencuci piring sendok dan garpu yang mereka pakai, pake acara petak umpet segala, akhirnya mereka beranjak dari rumah itu dan berjalan perlahan menyusuri arena pasar malam di daerah tersebut. Setelah berjalan muter2, akhirnya mereka memutuskan untuk bermain permainan sederhana macam kora2 Cuma lebih tradisional dan menggunakan tenaga manusia sebagai penggeraknya, kita menyebut permainan itu ”ombak banyu”. Ketika wahana permainan itu mulai berjalan, senyum usil tersungging di sudut bibir kelima cewek tersebut. Namun ketika permainan tersebut benar2 telah berjalan, senyum tersebut berubah menjadi teriakan2 khas cewek yang dengan segera melepaskan segala beban dan pikiran yang hinggap dikepala mereka berganti dengan perasaan lega akan beban yang telah terangkat dan tersingkirkan untuk sementara waktu. Setelah selesai memainkan permainan tersebut, kelima cewek itu sok berani untuk ikut gabung berjalan di rumah hantu. Dan akhirnya Cuma beberapa diantara mereka yang benar2 nekad untuk mengikuti permainan tersebut. Bermodal nekad dan teriakan yang tajam, mereka masuk ke wahana tersebut. Dan ketika mulai berjalan, satu persatu hantu dan tipuan pun bermunculan, dan merekapun dengan sesegera mungkin mengeluarkan jurus andalan mereka yaitu teriak sekenceng mungkin.

Dan dalam hati teman mereka yang tertinggal diluar, ”hahaha… itu kan suara teriaknya temenku.. ketahuan banget Cuma modal teriak.. mampus2 deh didalem.” Dan ketika hari beranjak malam, mereka terlelap dengan senyum yang masih tertinggal di sudut bibir mereka. Pelan tapi pasti ada gumaman di dalam tidur mereka, ”Untung aku tadi gak jadi ikutan masuk, biarin lah, dikirain penakut2 deh..” ”Hmmm… arum manis ku.. enak banget seehh…” ”Wah kenapa ya aku gak ikutan makan mie ayamnya..?? Hmmmm.. jadi mupeng deh neh.” ”Jeruk balinya manis gak ya?” “Hiiiiyyyy serme euyy.. tadi ada bapak2 yang mupeng banget ngeliat gw. Jd gak enak body gene deh..”

Petualangan mereka ternyata belum berakhir. Keesokan harinya setelah bersiap dan kembali menyantap makanan bermerk gratisan, mereka ber-5 ditemenin ibu, adek dan temen adeknya yang empunya rumah pergi berjalan2 ke Solo Grand Mall ato yang lebih popular dengan SGM. Sebenernya sih Cuma sekedar jalan2 doank, cuci mata situ, biar nanti kalo ditanyain orang, “ke solo kemana aja neng?” mereka bisa menjawab, “ke cembengan –pasar malem- pak/bu, ma ke SGM juga, trus jalan2 di sekitar pasar klewer situ. Eit, tapi ada satu lagi sih, pake acara ditilang polisi lho pak/bu. Hehehehe”

Peristiwa yang terjadi diatas boleh lah dibilang sederhana dan biasa terjadi pada kehidupan setiap orang, Namun kebersamaan saat itu memiliki arti tersendiri bagiku. Karena ada satu kesempatan yang tak mungkin lagi kudapatkan.

Just wanna say..

Selamat jalan Gita.. –Gita Trakanita-

Semoga memang ini adalah jalan yang terbaik bagi kita semua.

Semoga engkau mendapatkan tempat yang layak disisisiNya.

Semoga semua amal Ibadan mu diterima disisiNya.

Selamat jalan sahabatku

Selamat jalan temanku

Selamat jalan…

Semoga kita bertemu lagi di taman indah yang dijanjikan Nya.

Semoga kita merupakan sebagian dari orang2 yang disebutNya beriman.

Selamat jalan kawan.. doaku menyertaimu..

Kepada Hatta – dan keluarganya Gita, semoga tabah dalam menjalani cobaanNya ini. Yakinlah ini adalah jalan yang terbaik.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s